Derap langkah gelisah
memamah sepi yang terantuk kala itu
Aku memilih duduk di bangku yang sama
seperti pertama kali kita bertemu
seperti pertama kali pandangan kita saling mengunci
Senyummu memagut gundah
Renyah tawamu memacu detak jantung
Aliran darah berontak hebat
di balik urat
Saraf motorik...
Saraf sensorik...
Mati tergelitik!
Ramuan kata yang berotasi di otakku
mulai sibuk dengan majasnya sendiri
Sementara aku masih sibuk merapikan detak jantung
Sementara pandanganmu masih mengikat tubuhku
Mematung!
Sementara kita diam seribu bahasa
hanya kedipan mata yang bicara
Malampun kian mendesah
Hembusan anginnya meremas gerah
Semoga pertemuan ini bukan bagian imajinasi
Semoga kilatan lembut matamu bukan bagian dari sepotong mimpi
Kata-kata tertahan
Sementara cinta saling berebut bagian
untuk sebuah kenyataan
Lalu jemari kita saling bersentuhan
Di bawah sinar lampu redup yang berserakan
memamah sepi yang terantuk kala itu
Aku memilih duduk di bangku yang sama
seperti pertama kali kita bertemu
seperti pertama kali pandangan kita saling mengunci
Senyummu memagut gundah
Renyah tawamu memacu detak jantung
Aliran darah berontak hebat
di balik urat
Saraf motorik...
Saraf sensorik...
Mati tergelitik!
Ramuan kata yang berotasi di otakku
mulai sibuk dengan majasnya sendiri
Sementara aku masih sibuk merapikan detak jantung
Sementara pandanganmu masih mengikat tubuhku
Mematung!
Sementara kita diam seribu bahasa
hanya kedipan mata yang bicara
Malampun kian mendesah
Hembusan anginnya meremas gerah
Semoga pertemuan ini bukan bagian imajinasi
Semoga kilatan lembut matamu bukan bagian dari sepotong mimpi
Kata-kata tertahan
Sementara cinta saling berebut bagian
untuk sebuah kenyataan
Lalu jemari kita saling bersentuhan
Di bawah sinar lampu redup yang berserakan
0 komentar:
Post a Comment