#sambungan cerita Dibalik Sel Penjara
Suasana hening itu kian mencekam ketika Rain harus mengendap-endap memasuki tahanan khusus tanpa diketahui oleh sipir lainnya. Rain menarik napas berat. Ia sesekali melirik Shinta yang sedang membaca Al-Quran dengan sangat serius. Shinta tak bersuara namun jemarinya terus menunjuk huruf-huruf Arab yang bahkan tak bisa Rain baca. Mereka tak saling berbicara, tapi tatapan Rain dan Shinta kadang bertemu. Tatapan menggantikan perkataan, ketika mulut tak bicara, matalah yang ungkapkan segalanya.
Suasana hening itu kian mencekam ketika Rain harus mengendap-endap memasuki tahanan khusus tanpa diketahui oleh sipir lainnya. Rain menarik napas berat. Ia sesekali melirik Shinta yang sedang membaca Al-Quran dengan sangat serius. Shinta tak bersuara namun jemarinya terus menunjuk huruf-huruf Arab yang bahkan tak bisa Rain baca. Mereka tak saling berbicara, tapi tatapan Rain dan Shinta kadang bertemu. Tatapan menggantikan perkataan, ketika mulut tak bicara, matalah yang ungkapkan segalanya.
“Baca
apa?” tanya Rain, berusaha memecah keheningan.
“Memangnya
kamu paham kalau kuberitahu yang aku bacakan?”
“Ssstt....
Rain, udah mau sahur, nanti sipir yang galak itu masuk lho, kamu nanti diusir!”
“Tinggal
aku usir balik!”
“Aku?
Tumben menyebut dirimu sendiri dengan sebutan aku.”
“Kita
sudah berkenalan beberapa bulan, memangnya salah menggunakan panggilan aku dan
kamu?” canda Rain sambil berusaha menjambak kecil rambut Shinta dari luar sel penjara. “Kamu juga tadi menggunakan
panggilan aku dan kamu, jadi kita satu sama!”
Keheningan
terpecah oleh suara tawa, tapi Rain dan Shinta langsung menutup suara karena
takut para sipir menghampiri sel khusus yang didiami Shinta, tapi entah mengapa suasana begitu hening. Apa para sipir dan para tahanan lainnya sudah tidur?
Tak ada yang paham, mengapa perkenalan mereka yang sudah berjalan berbulan-bulan ini menimbulkan rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Tak ada yang mampu memprediksi, mengapa tatapan dan senyum yang mengisi hari-hari Shinta selama di penjara tak lagi terasa asing, semua jadi terasa begitu dekat.
Tak ada yang paham, mengapa perkenalan mereka yang sudah berjalan berbulan-bulan ini menimbulkan rasa bahagia yang sulit dijelaskan. Tak ada yang mampu memprediksi, mengapa tatapan dan senyum yang mengisi hari-hari Shinta selama di penjara tak lagi terasa asing, semua jadi terasa begitu dekat.
Hal itu
juga yang dirasakan Rain, sehari saja ia tak melihat Shinta rasanya pahit dan
menyebalkan. Tanpa disadari, mereka merasakan sesuatu yang aneh, bergerak dan
meluncur dari mata turun ke dalam dada. Mungkinkah cinta?
***
Waktu
berlalu, kedekatan mereka berubah jadi rasa takut berpisah dan kehilangan. Memang
tak ada sentuhan yang berarti, juga tak ada pelukan hangat saat hati mereka
sama-sama merasa kedinginan. Dari luar terlihat tak ada yang begitu spesial,
tapi siapa yang bisa memahami isi hati seseorang?
Bulan
ramadhan hampir berakhir, mendekati hari lebaran. Tak ada senyuman juga tawa
yang merekah. Tak ada perayaan kemenangan, mungkin lebih banyak terlihat wajah
penderitaan dan kekalahan. Tidak ada pesta, yang ada hanya duka. Dua hari
setelah lebaran, hukuman mati yang diemban Shinta segera dilaksanakan. Mengingat
fakta yang tak bisa dihindari itu, Rain tak kuasa menatap Shinta lagi dengan
senyuman sebahagia dulu.
Suara takbir
terdengar dari kejauhan, meskipun terdengar seperti suara kemenangan, tapi
akankah terasa menang jika tubuh masih berada dalam penjara? Rain bersandar di
luar jeruji sel penjara, Shinta memebelakangi tubuhnya; tubuh mereka menempel
dan berdekatan.
“Kamu
rindu udara bebas di luar sana?”
“Iya,
terutama aku sangat merindukan pantai dan gunung.”
“Kenapa
tak berusaha?”
“Apalagi
yang harus aku usahakan, Rain? Aku sudah kalah.”
“Jadi,
kamu menyerah?”
“Aku
tidak menyerah, aku hanya menerima takdir. Sesederhana itu.”
“Kamu
tidak bersalah, Shinta!”
“Aku
memang tidak bersalah, tapi mati muda bukankah menyenangkan?”
“Aku
tahu bukan itu yang kaurasakan, matamu berbohong!”
Shinta
menghela napas. “Aku tak bisa berbuat banyak, Rain.”
“Aku
bisa!”
Rain berbalik
badan, membuka jeruji sel penjara yang terkunci dengan cepat. “Keluarlah,
pulanglah bersamaku.”
Shinta menggeleng
cepat, “Jangan.... penjaralah rumahku yang tepat.”
“Tolol!
Gadis sepertimu tak pantas tinggal di sini, Shinta!”
“Kauyang
bodoh, Rain! Kaubahkan tak tahu nama asliku, mengapa kaumemercayai penjahat
serba misterius seperti aku?”
“Karena
aku tahu, kamu tak sejahat itu. Aku mengenalmu....”
“Kamu
tidak mengenalku, kamu hanya mengetahui aku.”
“Tapi....
aku mencintaimu.”
Hening.
Tatapan
mata Shinta mengeluarkan bulir air mata, sesak di dadanya kian memuncak. “Aku ini
sampah, bagian mana dalam diriku yang kamu cintai?”
“Hatimu.”
“Kautolol,
Rain! Tolol!”
Rain tak
peduli pada cemooh Shinta, ia menarik Shinta hingga ke lorong di luar tahanan
khusus. Sejujurnya Shinta juga ingin merasakan udara bebas. Langkah kakinya
mengikuti langkah kaki Rain, mereka mengendap-endap melewati dapur yang sepi
dan tak terlihat lagi aktivitas.
“Kenapa
sepi sekali?”
“Semua
tahanan dan sipir telah kuberi obat tidur.”
“Memangnya
tadi kauyang memasak makanan untuk buka puasa terakhir?”
Rain tertawa
geli, “Iya, enak tidak?”
“Enak,
lalu, mengapa aku tak ikut tertidur?”
“Karena
makanan untukmu kumasak khusus, aku yang memasak dan mengatarkannya untukmu.”
“Kaugila,
Rain!”
“Kalau
aku tak gila, kautak akan mencintaiku kan, Shinta?”
Shinta tersenyum
manis, belum pernah Rain melihat senyum sebahagia dan semanis itu.
“Kamu rindu rumahmu? Ingin pulang?”
“Kamu rindu rumahmu? Ingin pulang?”
“Aku
ingin pulang.”
“Kalau
kamu pulang bersamaku, bagaimana?”
“Kalau
aku pulang bersamamu? Kauakan dipecat dari sini, Rain!”
“Lebih
baik aku mengejar kebahagiaanku daripada aku terus tenggelam dalam kesepian.”
Rain membuka
pintu belakang di dekat dapur, pintu yang ditutupi rak piring, pintu yang tak
banyak diketahui oleh penghuni penjara; pintu yang mendekatkan mereka dengan
dunia luar.
“Siap?”
Anggukan
Shinta mantap, Rain mengenggam tangan Shinta dengan erat.
0 komentar:
Post a Comment