Ini bukan
yang pertama kali bagi Dira. Ia menunggu sendirian, berjam-jam, demi sosok
Kevin. Satu kali masih bisa dimaklumi,
dua kali masih bisa ditolerir, tiga kali masih bisa dimaafkan, tapi tujuh kali?
Dira menghela napas berat, apakah kehadiran Dira tak pernah Kevin anggap sama
sekali?
Pengorbanan
dari menunggu memang menyakitkan, apalagi jika orang yang ditunggu tak pernah
menampakan diri. Itulah rasa sakit yang Dira pendam, tak pernah ia ceritakan
kepada siapapun. Ia masih menganggap Kevin adalah dunianya. Dia masih
menganggap Kevin adalah sebab dari kebahagiaannya. Bisakah disebut kebahagiaan
jika Kevin selalu melanggar janjinya?
Benarkan
perkataan Rama selama ini. Rama selalu bercerita kepada Dira bahwa Kevin sangat
menyukai Dira, bahkan tergila-gila, namun hal itu tak benar-benar dirasakan
Dira; justru pengabaianlah yang Dira rasakan sehari-hari. Cintanya seakan-akan
bertepuk sebelah tangan. Pengakuan Rama mengenai perasaan Kevin, yang katanya
begitu mencintai Dira, ternyata berbeda dengan yang Dira rasakan selama ini.
Inikah kesalahan
Dira? Terlalu bodoh menanti seseorang yang mungkin saja tak mencintainya? Nampaknya,
Dira sudah berikan segalanya. Perhatian, sikap manis, dan tentu saja cinta. Balasan
apa yang Dira terima dari Kevin? Rasa sakit hati.
Pantaskah
Dira menuntut balas dari Kevin? Bukankah cinta tak pamrih? Bukankah cinta tak
mengenal kata menuntut untuk dicintai balik? Bukankah cinta lebih mengenal
ketulusan daripada imbalan? Iya, Dira paham, sangat paham. Namun... Kevin...
apakah dia tak punya mata untuk melihat pengorbanan Dira? Apakah dia tak punya
telinga untuk mendengar kata-kata manis dari bibir dira? Apakah Kevin
tak lagi punya perasaan untuk merasakan perhatian yang Dira berikan?
Dira hanya
terdiam, tak bisa apa-apa, bahkan ketika Kevin tak datang untuk kesekian kalinya. Janji diingkari
lagi. Ia menunggu Kevin di dekat danau UI hingga hujan
deras. Terpaksa, Dira berteduh di bawah lorong Balairung UI. Ia merapatkan
tangannya di depan dada, berusaha menemukan kehangatan dengan memeluk tubuhnya
sendiri. Hujan selalu berhasil membuat seseorang mereka-reka kembali ingatan
masa lalunya, hal itu juga yang Dira lakukan ketika hujan semakin deras dan
udara semakin dingin.
Ia berpikir
keras. Untuk apa ia berkorban demi Kevin? Kevin yang terlihat tak merespon, memberi
perhatian, dan balik mencintainya. Dira tak ingin memikirkan Kevin untuk
saat-saat ini, karena saat memikirkan Kevin; ia tak lagi temukan celah
kebahagiaan.
Di bawah
hujan yang semakin deras, Rama berlari-lari kecil menghampiri Dira. Ia sudah
tahu sebenarnya Kevin tak akan datang dan Dira akan menunggu sendirian. Rama tak
tahan melihat Dira yang justru kehilangan senyumnya ketika berusaha membuat Kevin
tersenyum.
“Ngelamun
terus lo!”
“Bukan
ngelamun, ini lagi berteduh!”
“Nunggu
siapa?”
Dira terdiam.
Ia menatap Rama dengan tatapan sendu.
“Enggak
usah dijawab, gue selalu bilang sama elo kan, diam lo sudah cukup menjawab.”
Rama menerangkan dengan wajah kusut. “Kevin enggak datang lagi?”
Anggukan
Dira berayun pelan. “Entah sudah yang keberapa kali.”
“Masih
mau menunggu?”
Dira tersenyum
kecut.
“Buat
apa menunggu yang jauh agar segera kembali jika yang di dekat lo tak pernah
memutuskan pergi?”
Tatapan
Dira heran, “Maksud lo?”
“Buka
mata lo.”
“Udah.”
“Bukan
mata yang itu!” Rama menunjuk kelopak mata Dira.
“Mata
yang mana?”
“Yang
ini.” ucap Rama sambil mengarahkan jari telunjuk ke dadanya. “Gue enggak mau
kalau senyum lo malah pudar ketika lo ingin membuat orang lain tersenyum.”
“Gue
enggak kehilangan senyum gue sendiri kok.”
“Elo
enggak merasa, tapi orang di sekitar lo merasakan. Ketika hati lo enggak peka,
orang lainlah yang bisa saja merasakan yang sebenarnya terjadi sama lo.”
“Rama....
tapi, kata elo, Kevin sayang sama gue.” mata Dira berair.
“Bercerita
tentang Kevin adalah satu-satunya cara agar gue punya kesempatan ngobrol sama
lo.” jelas Rama dengan wajah menunduk. “Perasaan Kevin yang gue ceritakan ke
elo sebenarnya adalah perasaan gue, yang entah harus bagaimana gue ungkapkan ke
elo.”
“Jadi....”
“Jadi,
kita pulang, sebelum elo menggigil kedinginan.”
Dira berusaha
mengundang senyum kembali ke bibirnya, Rama merangkul Dira dengan debaran
jantung berirama cepat.
Jika bisa
terus berjalan, haruskah kamu menghentikan langkah untuk menunggu?
Jawabannya
ada di dalam hatimu.
0 komentar:
Post a Comment