#Sambungan dari artikel "Tersirat"
Dira sejak tadi menatap pintu kelas, ia berharap sosok Kevin datang sebelum mata kuliah dimulai. Tatapan Dira masih begitu serius, hingga sosok Kevin yang diharapkan terlihat muncul dari balik pintu.
Dira sejak tadi menatap pintu kelas, ia berharap sosok Kevin datang sebelum mata kuliah dimulai. Tatapan Dira masih begitu serius, hingga sosok Kevin yang diharapkan terlihat muncul dari balik pintu.
“Kevin!”
Kevin menatap
acuh tak acuh pada Dira, “Yo, Dir.”
Merasa diabaikan,
Dira segera mendekati Kevin menuju mejanya. “Pagi ini suntuk banget, udah
sarapan?”
Kevin
menggeleng lemah, matanya tak lepas dari buku tebal yang berada di jemarinya.
“Dira
masakin Kevin nasi goreng lho,” tangan Dira mengulurkan sekotak makanan ke meja Kevin. “Enggak terlalu enak sih, tapi
dimakan ya, Kevin.”
Wajah menyebalkan
Kevin tak luput dari pandangan Dira, reaksi Kevin yang menyebalkan ternyata tak
membuat Dira jera. Ia masih terus berusaha mengajak Kevin bicara, namun respon
Kevin tetap sama; tersenyum setengah-setengah.
Ketika percakapan
berlangsung semakin hambar, Rama mengagetkan mereka berdua dengan suara khasnya,
“Woi! Berdua aje!”
Senyum Dira
melengkung malu-malu, “Eh, Rama, pagi-pagi udah godain orang aja!”
“Woi,
Bro, untungnya elo dateng, kelas elo belum masuk emang?”
“Kelas
B belum masuk kok, Vin.”
“Oh
iya, gue mau cerita banyak nih!” ucap Kevin dengan nada bersemangat ketika
melihat sosok Rama berdiri di samping mejanya.
Pasti mereka mau ngomongin gue. Dira tersenyum
tipis, ia sangat yakin dengan kata hatinya. “Kevin, nanti balajar bareng di
Perpustakaan Pusat UI mau enggak?”
Tatapan
itu masih sama, tatapan tak peduli, “Jam berapa? Sama siapa aja?”
“Habis
kelas pagi ini, berdua aja, kalau kebanyakan orang takut terlalu rame.”
“Oke,
gue ngikut ajadeh!”
Senyum Dira
terhapus, ia merasakan debaran aneh di jantungnya. Ketika Kevin menatapnya,
meskipun hanya sekali lirik, tatapan itu benar-benar meruntuhkan logika dan
pikirannya. Dira masih beranggapan bahkan Kevin sebenarnya juga menyukai Dira,
namun Kevin masih menunggu waktu yang tepat untuk memberi respon kemudian
mengungkapkan. Dira menutup hatinya rapat-rapat untuk orang lain, karena kunci
hatinya telah dimiliki oleh Kevin. Ia sangat yakin bahwa pengabaian Kevin
bukanlah hal yang sebenarnya ingin ditunjukkan Kevin, ia punya pendapat sendiri
terhadap perasaan Kevin. Baginya, Kevin punya perasaan yang sama, namun Kevin
masih malu-malu untuk menunjukkan perasannya.
Ketika kuliah
pagi usai, Dira langsung melengos pergi menuju Perpustakaan Pusat UI. Ia
berlari menuju halte bis kuning yang akan mengantarkan dia sampai di depan
halte bisa kuning Pondok Cina. Napasnya yang terengah-engah tak meluruhkan
semangatnya untuk segera sampai di Perpustakaan Pusat UI. Sesampainya di sana,
ia segera menaiki lift menuju lantai tiga, dengan sigap mencari meja yang pas
untuk belajar bersama Kevin.
Rasa lelahya
disandarkan pada bangku yang ia duduki, dengan hati berdebar-debar ia menunggu
kedatangan Kevin. Kerjaannya sejak tadi hanya menatap jam tangan biru yang
melingkar di pergelangan tangannya. Waktu semakin berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Kevin
tak datang. Hanya untuk menunggu Kevin, Dira bahkan meninggalkan jadwal mata
kuliah siang. Wajah Dira terlihat semakin kecut, hatinya bertanya-tanya. Apakah
Kevin memang punya perasaan yang mendalam seperti yang diceritakan Rama? Apakah
Kevin menyukai Dira seperti Dira lebih dulu menyukai Kevin? Apakah semua
perkataan Rama tentang perasaan Kevin pada Dira harus benar-benar dipercaya?
Dira melipat
tangan, ia menundukkan kepala.... menangis dalam diam.
Rama
yang sejak tadi menatap Dira dari kejauhan, tak bisa berbuat banyak. Rama ingin
berada di samping Dira, memeluknya dengan rapat, tapi rasanya tak mungkin.
bersambung ke Tersirat (END)
0 komentar:
Post a Comment