“Woy,
Baju Merah! Woy!”
Dira berbalik
badan dan menghentikan langkah, “Gue?”
“Iya! Elo
yang namanya Dira ya?”
“Iya,
kenapa?”
“Anu
lho, Si Kevin....”
“Kevin?”
“Iya,
anak yang sekelas sama elo!”
“Dih,
elo bukannya sejurusan sama gue? Elo anak psikologi juga kan? Mahasiswa baru
juga?”
“Gue Rama, kita satu jurusan juga, kok, tapi
beda kelas. Sewaktu pertemuan pertama mahasiswa baru, elo lihat gue kan?”
Dira
memutar ingatannya, mencoba mencari-cari wajah Rama dan mengingat kembali
pertemuan pertama mahasiswa baru, ketika ia temukan wajah Rama dalam memorinya,
Dira langsung mengangguk cepat, “Iya, gue inget.”
“Bagus!
Gue mau cerita mengenai Kevin nih.”
“Ada
apa dengan Kevin? Enggak aja hujan dan enggak ada angin kok elo tiba-tiba
cerita tentang dia?”
“Kevin suka
cerita tentang lo! Dia juga sering banget bercerita tentang percakapan antara
lo dan dia. Kayaknya, dia suka banget deh sama elo, Dir.”
Pipi Dira
memerah, “Kita cuma sering becanda di sms atau bbm, kok, enggak lebih dari itu.”
Pria itu
menatap wajah Dira sambil menghela napas pelan dan panjang. Dira meneliti wajah
pria itu dengan cermat, nampaknya ia sangat bersemangat mengejar Dira hingga
napasnya terengah-engah seperti itu.
“Dia
juga cerita kalau elo suka sms atau bbm dia duluan. Katanya, elo lucu, ramah,
dan supel. Dia nyaman ngomong sama elo.”
“Wah,
gue baru tahu kalau elo deket sama Kevin.”
“Dia
sering main ke kosan gue, soalnya kosan dia katanya sepi. Dia enggak terlalu
suka tempat yang sepi.”
Dira mengangguk
mengerti, “Terus, dia cerita apalagi?”
“Elo
penasaran? Mending kita ngobrol dekat danau itu aja, lumayan anginnya
sepoi-sepoi.”
Langkah mereka berayun menuju salah satu bangku di dekat danau. Dalam keadaan seperti
ini, sejauh mata memandang terlihat Perpustakaan Pusat UI berdiri megah. Aliran
danau yang tenang namun menggoda menciptakan gemerisik yang merdu. Terpaan angin
yang sejuk memainkan rambut Rama dan Dira.
Dira tak
terlalu mengenal Rama, mungkin inilah kali pertama Dira bisa benar-benar bercakap
dengan Rama. Hal itulah yang juga dirasakan Rama, inilah kali pertama ia
bercakap dengan Dira.
“Kevin
cerita banyak hal mengenai elo. Dia memerhatikan setiap detail yang ada dalam
diri lo.”
“Wah,
tapi, kok elo malah cerita-cerita ke gue sih? Harusnya, itu kan jadi rahasia
antara elo dan Kevin.”
“Bagi
gue, ini bukan rahasia. Enggak ada gunanya disimpan diam-diam kalau dikatakan
jauh lebih berarti.”
“Elo
serius kalau Kevin sering cerita tentang gue ke elo?”
“Iya,
masa gue bohong sama elo? Elo suka sama dia?”
Dira
terdiam.
“Oke,
diam lo cukup menjawab, kok.”
Senyum Dira
melengkung sempurna, ia membayangkan bagaimana Kevin, pria yang baru-baru ini
mengisi hatinya yang kosong, sangat berantusias bercerita tentang dirinya
kepada sahabat karib Kevin, Rama. Dira juga mereka-reka bagaimana wajah Kevin
yang sangat manis itu mengucapkan nama Dira berkali-kali. Senyum Dira semakin
puas, ia merasa bahwa usahanya mendekati Kevin telah mendapatkan respon. Kevin
yang Dira kira adalah cowok angkuh dan pelit respon ternyata menyimpan rahasia
yang mendalam. Bagi Dira, Kevin juga menyukai Dira sedalam Dira menyukai sosok
Kevin. Senyum Dira terlihat semakin puas. Sangat puas.
“Tetap
bikin dia tersenyum ya, kayaknya cuma elo yang berhasil mengembalikan
senyumnya.”
“Lho,
kok segitunya sih, Rama? Emangnya ada apa dengan Kevin?”
“Tadinya,
dia udah lupa rasanya jatuh cinta, kehadiran elo benar-benar mengubah dia.”
“Rama, thanks ya! Gue jadi tambah semangat nih
buat bikin Kevin terus tersenyum.”
“Bagus.
Sekarang, udah sore banget, elo enggak pulang?”
“Keasikan
cerita jadi lupa kalau gue mau pulang!”
Rama tertawa
geli. Dira segera pamit meninggalkan Rama. Langkah Rama tak langsung beranjak,
ia memerhatikan punggung Dira yang semakin lama semakin menjauh.
Napasnya
berembus dengan sangat berat, “Dira, seandainya gue bisa jadi Kevin.”
bersambung ke Tersirat II
0 komentar:
Post a Comment