Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email
Touch ME slider for IOS, Android and Desktop.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Responsive Design, that will make you blow away.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Flexible Display providing efficient compatibility.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016
Customize it to the deepist according to the needs.
Hardware accelerated using CSS3 for supported iOS
and enjoy the Amazing Slide Experience.
20 Mar 2016

Wednesday, 2 January 2019

DAFTAR BANGUNAN DENGAN KONSTRUKSI SANGAT MENAKJUBKAN DI DUNIA

Unknown


Sunday, 5 April 2015

5 Kesalahan umum yang bisa bikin lo gagal masuk Universitas

Unknown
Okay, untuk artikel kali ini gua mau bahas tentang 5 kesalahan umum yang sueeriiiing buaaangeeet dilakukan oleh kakak-kakak angkatan lo. Sebetulnya gua cukup yakin kalo kesalahan-kesalahan ini pun masih akan sering diulangi oleh temen-temen seangkatan lo, terutama yang nggak baca artikel ini. Kesalahan-kesalahan inilah yang seringkali menyebabkan banyak siswa yang terkenal pinter (atau rajin) di sekolahnya tapi malah gagal untuk dapet universitas favorit atau bahkan gagal kuliah dan terpaksa harus ngulang tahun depan. (serius deh, lumayan banyak lho anak yg pinter & rajin tapi justru malah  gagal masuk universitas!)
Jadi buat lo yang sekarang lagi baca artikel ini, gua berani bilang kalo lo cukup beruntung karena mengetahui hal-hal ini lebih awal, dan pastinya bisa punya cukup waktu untuk mensiasati kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi ini. Oke deh kita mulai aja yuk pembahasannya tentang 5 kesalahan umum yang (bisa jadi) bikin lo gagal masuk universitas:

Monday, 28 January 2013

sampai kapan kita bisa bersama?

Unknown
Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran, hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Salah satu hal yang membuatku rela tidak tidur hingga subuh, ya, karena mendengar suaramu di ujung telepon, hingga suara azan subuh menggema di masing-masing kota kita. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kautuliskan dengan rapi, dengan huruf dan tanda baca yang penuh intonasi. Dalam jarak sejauh ini, tak banyak hal yang bisa kita lakukan, selain menulis dan mendengar; bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan suara yang terdengar di ujung handphone sungguh jauh berbeda dengan pertemuan nyata? Iya, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal nasihatmu ketika aku mengungkit soal ini, "Sabar." katamu dengan suara parau, "Kita bisa lewati ini."

Apakah Kamu masih yang Dulu Kukenal? (END)

Unknown


                Langit-langit rumahnya masih sama. Putih. Bersih. Kosong. Ia punya pembantu untuk mengantarkan minum untukku, tapi ia selalu berpendapat bahwa aku harus dilayani oleh kekasihku sendiri—dia.
                “Kamu naik motor?” percakapan awal yang tak begitu kuharapkan, pertanyaan seperti ini harusnya tak ditanyakan lagi.
                “Iya, kenapa?”
                “Di luar kan panas, kenapa enggak minta jemput sama supirku aja?”
                “Aku cuma ke rumahmu, bukan ke kawah Gunung Merapi.”
                “Jayus ah!” senyum kecil tergambar di sudut bibirnya, senyum yang akhirnya bisa kunikmati dengan bebas.

Apakah kamu masih yang dulu kukenal?

Unknown

                Aku menatap wanita yang kucintai itu dengan tatapan bersalah. Sebenarnya aku juga tidak tahu siapa yang salah, aku yang salah atau dia yang salah. Rasanya memang tak ada yang membuat kesalahan, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah di antara kita. Dia wanita yang sungguh berbeda. Wanita yang tidak lagi kukenal. Aku kehilangan cara untuk menghadapi segala macam tindakannya.
                “Aku enggak mau makan di situ, mahal.”
                “Aku yang bayarin!” ucap kekasihku sambil menarik dompetnya dari tas, “Kita makan di sana aja ya, enak kok, banyak gizinya, supaya kamu gendutan dikit. Kalau kurus kan enggak enak dipeluk.”
                “Kamu yang bayarin?”
                Well, kenapa?”
                “Emangnya kita enggak bisa makan dipinggiran jalan aja? Yang lebih enak, lebih murah juga.”

Sunday, 20 January 2013

Aku Siapamu?

Unknown

Jadi kemaren emang lagi panas , terik banget . kulit ku yang hitam semakin hitam menantang teriknya matahari siang itu . sempat terpikir buat nyejukin jiwa sejenak  .  kami bergegas menuju kolam pemandian pusat kota , dengan penampilan seadanya (karna kalo agak gimana malah dikata mau kondangan) kaos oblong dan hotpant jeans . aku sih ngerasa apa adanya aja kalo lagi bareng sahabat yang satu ini , widy .

“panas banget , males kalo harus naik bis “, ketus widy.
“jadi aku harus apa ? harus curi mobil dulu buat sahabat ku ini ?”.
“aku punya temen sih , aku hubungin dia aja kali ya” , terang widy.

Saturday, 19 January 2013

Kado Untuk Samuel

Unknown

“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi”


“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”

Tuesday, 8 January 2013

Tersirat (End)

Unknown
#Sambungan dari artikel "Tersirat II"

               Ini bukan yang pertama kali bagi Dira. Ia menunggu sendirian, berjam-jam, demi sosok Kevin. Satu kali masih bisa dimaklumi, dua kali masih bisa ditolerir, tiga kali masih bisa dimaafkan, tapi tujuh kali? Dira menghela napas berat, apakah kehadiran Dira tak pernah Kevin anggap sama sekali?
                Pengorbanan dari menunggu memang menyakitkan, apalagi jika orang yang ditunggu tak pernah menampakan diri. Itulah rasa sakit yang Dira pendam, tak pernah ia ceritakan kepada siapapun. Ia masih menganggap Kevin adalah dunianya. Dia masih menganggap Kevin adalah sebab dari kebahagiaannya. Bisakah disebut kebahagiaan jika Kevin selalu melanggar janjinya?

Tersirat II

Unknown
 #Sambungan dari artikel "Tersirat"

                Dira sejak tadi menatap pintu kelas, ia berharap sosok Kevin datang sebelum mata kuliah dimulai. Tatapan Dira masih begitu serius, hingga sosok Kevin yang diharapkan terlihat muncul dari balik pintu.
                “Kevin!”
                Kevin menatap acuh tak acuh pada Dira, “Yo, Dir.”
                Merasa diabaikan, Dira segera mendekati Kevin menuju mejanya. “Pagi ini suntuk banget, udah sarapan?”
                Kevin menggeleng lemah, matanya tak lepas dari buku tebal yang berada di jemarinya.
                “Dira masakin Kevin nasi goreng lho,” tangan Dira mengulurkan sekotak makanan ke  meja Kevin. “Enggak terlalu enak sih, tapi dimakan ya, Kevin.”

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib