Wednesday, 2 January 2019
Sunday, 5 April 2015
5 Kesalahan umum yang bisa bikin lo gagal masuk Universitas
Unknown
12:56
Okay, untuk artikel kali ini gua mau bahas tentang 5 kesalahan umum yang sueeriiiing buaaangeeet dilakukan oleh kakak-kakak angkatan lo. Sebetulnya gua cukup yakin kalo kesalahan-kesalahan ini pun masih akan sering diulangi oleh temen-temen seangkatan lo, terutama yang nggak baca artikel ini. Kesalahan-kesalahan inilah yang seringkali menyebabkan banyak siswa yang terkenal pinter (atau rajin) di sekolahnya tapi malah gagal untuk dapet universitas favorit atau bahkan gagal kuliah dan terpaksa harus ngulang tahun depan. (serius deh, lumayan banyak lho anak yg pinter & rajin tapi justru malah gagal masuk universitas!)
Jadi buat lo yang sekarang lagi baca artikel ini, gua berani bilang kalo lo cukup beruntung karena mengetahui hal-hal ini lebih awal, dan pastinya bisa punya cukup waktu untuk mensiasati kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi ini. Oke deh kita mulai aja yuk pembahasannya tentang 5 kesalahan umum yang (bisa jadi) bikin lo gagal masuk universitas:
Tuesday, 17 December 2013
Share your invitation code (appnana)
Unknown
05:50

Monday, 28 January 2013
sampai kapan kita bisa bersama?
Akhir-akhir ini aku sulit tidur. Bukan banyak pikiran, hanya ada beberapa hal yang harus aku kerjakan. Salah satu hal yang membuatku rela tidak tidur hingga subuh, ya, karena mendengar suaramu di ujung telepon, hingga suara azan subuh menggema di masing-masing kota kita. Mendengar suara dan saling tertawa; itulah yang biasa kita lakukan, di samping membaca pesan singkat yang kautuliskan dengan rapi, dengan huruf dan tanda baca yang penuh intonasi. Dalam jarak sejauh ini, tak banyak hal yang bisa kita lakukan, selain menulis dan mendengar; bukan bersentuhan. Padahal, tahukah kamu tulisan dan suara yang terdengar di ujung handphone sungguh jauh berbeda dengan pertemuan nyata? Iya, tidak akan kubahas lagi, aku selalu hapal nasihatmu ketika aku mengungkit soal ini, "Sabar." katamu dengan suara parau, "Kita bisa lewati ini."
Apakah Kamu masih yang Dulu Kukenal? (END)
Cerita Sebelumnya: Apakah Kamu masih yang Dulu Kukenal?
Langit-langit
rumahnya masih sama. Putih. Bersih. Kosong. Ia punya pembantu untuk
mengantarkan minum untukku, tapi ia selalu berpendapat bahwa aku harus dilayani
oleh kekasihku sendiri—dia.
“Kamu
naik motor?” percakapan awal yang tak begitu kuharapkan, pertanyaan seperti ini
harusnya tak ditanyakan lagi.
“Iya,
kenapa?”
“Di
luar kan panas, kenapa enggak minta jemput sama supirku aja?”
“Aku
cuma ke rumahmu, bukan ke kawah Gunung Merapi.”
“Jayus
ah!” senyum kecil tergambar di sudut bibirnya, senyum yang akhirnya bisa
kunikmati dengan bebas.
Apakah kamu masih yang dulu kukenal?
Aku
menatap wanita yang kucintai itu dengan tatapan bersalah. Sebenarnya aku juga
tidak tahu siapa yang salah, aku yang salah atau dia yang salah. Rasanya memang
tak ada yang membuat kesalahan, tapi aku merasa ada sesuatu yang salah di
antara kita. Dia wanita yang sungguh berbeda. Wanita yang tidak lagi kukenal. Aku
kehilangan cara untuk menghadapi segala macam tindakannya.
“Aku
enggak mau makan di situ, mahal.”
“Aku
yang bayarin!” ucap kekasihku sambil menarik dompetnya dari tas, “Kita makan di
sana aja ya, enak kok, banyak gizinya, supaya kamu gendutan dikit. Kalau kurus
kan enggak enak dipeluk.”
“Kamu
yang bayarin?”
“Well, kenapa?”
“Emangnya
kita enggak bisa makan dipinggiran jalan aja? Yang lebih enak, lebih murah
juga.”
Sunday, 20 January 2013
Aku Siapamu?
Jadi kemaren emang lagi panas , terik banget . kulit ku yang hitam semakin hitam menantang teriknya matahari siang itu . sempat terpikir buat nyejukin jiwa sejenak . kami bergegas menuju kolam pemandian pusat kota , dengan penampilan seadanya (karna kalo agak gimana malah dikata mau kondangan) kaos oblong dan hotpant jeans . aku sih ngerasa apa adanya aja kalo lagi bareng sahabat yang satu ini , widy .
“panas banget , males kalo harus naik bis “, ketus widy.
“jadi aku harus apa ? harus curi mobil dulu buat sahabat ku ini ?”.
“aku punya temen sih , aku hubungin dia aja kali ya” , terang widy.
“panas banget , males kalo harus naik bis “, ketus widy.
“jadi aku harus apa ? harus curi mobil dulu buat sahabat ku ini ?”.
“aku punya temen sih , aku hubungin dia aja kali ya” , terang widy.
Saturday, 19 January 2013
Kado Untuk Samuel
“Mengasihi artinya berbagi kebahagiaan dan berkorban demi kebahagiaan orang yang kita kasihi”
“Aku menemukan sisi lain dari keindahan dunia ini saat mengenalmu dan ketika aku kehilangan dirimu, engkau menjadi inspirasi bagiku.”
Tuesday, 8 January 2013
Tersirat (End)
#Sambungan dari artikel "Tersirat II"
Ini bukan
yang pertama kali bagi Dira. Ia menunggu sendirian, berjam-jam, demi sosok
Kevin. Satu kali masih bisa dimaklumi,
dua kali masih bisa ditolerir, tiga kali masih bisa dimaafkan, tapi tujuh kali?
Dira menghela napas berat, apakah kehadiran Dira tak pernah Kevin anggap sama
sekali?
Pengorbanan
dari menunggu memang menyakitkan, apalagi jika orang yang ditunggu tak pernah
menampakan diri. Itulah rasa sakit yang Dira pendam, tak pernah ia ceritakan
kepada siapapun. Ia masih menganggap Kevin adalah dunianya. Dia masih
menganggap Kevin adalah sebab dari kebahagiaannya. Bisakah disebut kebahagiaan
jika Kevin selalu melanggar janjinya?
Tersirat II
#Sambungan dari artikel "Tersirat"
Dira sejak tadi menatap pintu kelas, ia berharap sosok Kevin datang sebelum mata kuliah dimulai. Tatapan Dira masih begitu serius, hingga sosok Kevin yang diharapkan terlihat muncul dari balik pintu.
Dira sejak tadi menatap pintu kelas, ia berharap sosok Kevin datang sebelum mata kuliah dimulai. Tatapan Dira masih begitu serius, hingga sosok Kevin yang diharapkan terlihat muncul dari balik pintu.
“Kevin!”
Kevin menatap
acuh tak acuh pada Dira, “Yo, Dir.”
Merasa diabaikan,
Dira segera mendekati Kevin menuju mejanya. “Pagi ini suntuk banget, udah
sarapan?”
Kevin
menggeleng lemah, matanya tak lepas dari buku tebal yang berada di jemarinya.
“Dira
masakin Kevin nasi goreng lho,” tangan Dira mengulurkan sekotak makanan ke meja Kevin. “Enggak terlalu enak sih, tapi
dimakan ya, Kevin.”
Subscribe to:
Comments (Atom)

